BiografiChairil Anwar Chairil Anwar adalah seorang penyair legendaris yang dikenal juga sebagai āSi Binatang Jalangā (dalam karyanya berjudul āAkuā). Salah satu bukti keabadian karyanya, pada Jumat 8 Juni 2007, Chairil Anwar, yang meninggal di Jakarta, 28 April 1949, masih dianugerahi penghargaan Dewan Kesenian Bekasi (DKB) Award 2007
MaknaDibalik Puisi `Doa` Karya Chairil Anwar. Chairil Anwar lahir dan dibesarkan di Kota Medan, Sumatera Utara, sebelum pindah ke Batavia (sekarang Jakarta) dengan ibunya pada tahun 1940, dimana dia mulai menggeluti dunia sastra. Puisinya menyangkut berbagai tema, mulai dari pemberontakan, kematian, individualisme, eksistensialisme, hingga
Analisisstruktur batin sebuah puisi, bertujuan untuk menentukan tema, amanat, perasaan (feeling) penyair, dan suasana kebatinan puisi tersebut. Tokoh aku yang mengingat bahwa dirinya adalah hamba tuhan dalam berbagai kondisi. Makna Puisi Aku Karya Chairil Anwar Chairil anwar merupakan penyair berdarah minangkabau yang menjadi salah satu.
Puisiini bercerita tentang pahlawan yang gugur, yang kini terbaring di pemakaman Karawang ā Bekasi, mereka tidak bisa berperang untuk merebut kemerdekaan lagi. Kini mereka telah gugur. Namun, mereka berharap jiwa perjuangan mereka akan tetap dilanjutkan. Dikeheningan malam mereka berharap para pemuda akan merenung dan memaknai
Thispaper is analyzed using a qualitative descriptive method. The poem "AKU" by Chairil Anwar was analyzed through data collection steps, (1) reading the author's biography; (2) to analyze the inspiration and purpose of the author in making a poem entitled "AKU" to find the value of education and to describe it.
Temapuisi Doa karya Chairil Anwar ini ialah ketuhanan atau hubungan antara hamba dengan Tuhannya. D apat dibuktikan melalui kutipan puisi āTuhanku / Dalam termangu / Aku masih menyebut nama-Muā 2.
. Analisi Puisi Aku karya Chairil Anwar AKU Kalau sampai waktuku'Ku mau tak seorang kan merayuTidak juga kauTak perlu sedu sedan itu Aku ini binatang jalangDari kumpulannya terbuangBiar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjangLuka dan bisa kubawa berlariBerlariHingga hilang pedih periDan aku akan lebih tidak perduli Aku mau hidup seribu tahun lagi Analasis Puisi Aku karya Chairil Anwar Bait pertama Kalau sampai waktuku'Ku mau tak seorang kan merayuTidak juga kau Bait itu bermakna bahwa kebulatan keyakinan pengarang yang sangat terhadap apayang diyakininya, sehingga tak bisa dirayu siapapun. kata "kau" bisa menjadiseorang yang dekat atau bisa menjadi siapa saja. Bahkan merayupun tidakdiinginkan oleh pengarang Bait kedua Tak perlu sedu sedan itu Dalam bait yang satu baris itu sebenarnya penulis bukan bermaksud menghibursiapapun yang merayunya. Walaupun bernuansa menghibur sebenarnya hal itubermaksud menegaskan bahwa dirayu dengan cara apapun entah sedih atauekspresi melas penulis tak akan goyah. Bait ketiga Aku ini binatang jalangDari kumpulannya terbuang Penulis semakin mempertegas keyakinannya dengan merendahkan hati bahwa iabukan sesuatu yang peting untuk diurusi maka hendaknya tidak perlu dibujukrayu karena hal itu akan sia-sia. Bait empat dan kelima Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjangLuka dan bisa kubawa berlariBerlariHingga hilang pedih peri
āŗ OpiniāŗDi Balik Angka dan Kata... Sastra dan matematika saling terkait. Sastra dapat mengekspresikan konsep matematika secara metaforis dan analogis, sedangkan matematika memberikan alas logika yang kokoh bagi pengembangan pemikiran sastra. Oleh MEICKY SHOREAMANIS PANGGABEAN 1 menit baca Sastra dan matematika adalah dua bidang yang kerap dipertentangkan keberadaannya sastra mengolah rasa sedangkan matematika mengelola logika. Memang esensi dan pendekatan dua bidang keilmuan ini berlainan, tetapi sesungguhnya sastra dan matematika memiliki keterkaitan yang menarik untuk diulas. Salah satu contoh terbaik bisa jadi adalah karya Jorge Luis Borges, Death and the Compass, yang tak bisa dilepaskan dari mengungkapkan rasa dan rasio melalui kata-kata untuk memperdalam pemahaman kita tentang manusia dan dunia. Di sisi lain, matematika adalah bahasa yang digunakan untuk memecahkan masalah kompleks, menganalisis pola, dan mengungkapkan rahasia alam semesta. Namun, keduanya tidak hidup kesepian dalam batasannya sendiri. Di balik kata-kata yang cantik dan rumus-rumus yang kompleks, terdapat keindahan dan logika yang saling melengkapi. Sastra dapat mengekspresikan konsep matematika secara metaforis dan analogis dengan variasi bahasa yang luas, adapun matematika memberikan alas logika yang kokoh bagi pengembangan pemikiran sastra. Bahasa dan simbol adalah pengikat pertama sastra dan matematika, dua bidang ilmu yang kerap diposisikan sebagai dua entitas yang duduk saling juga Lima Menit Biola di Kelas MatematikaAmbillah contoh puisi karya penyair Amerika, Howard Nemerov, peraih penghargaan Pulitzer pada 1978. Dalam Figures of Thought, ia menguraikan sebuah model matematika To lay the logarithmic spiral on//Sea-shell and leaf alike, and see it fit,//To watch the same idea work itself out//In the fighter pilot's steepening, tightening turn//Onto his target, setting up the kill,//And in the flight of certain wall-eyed bugs. Spiral logaritmik adalah bentuk spiral yang bisa kita dapati dari alam seperti cangkang kerang atau lintasan burung Anwar juga menyelipkan bahasa matematis, yaitu tanda tambah, bukan kata ādanā dalam puisinya yang berjudul Sorga Seperti ibu + nenekku juga//tambah tujuh keturunan yang lalu//aku minta pula supaya sampai di sorga//yang kata Masyumi + Muhammadiyah bersungai susu//dan bertabur bidari beribu. Pelopor angkatan ā45 ini menunjukkan bahwa keseharian manusia dalam berpikir dan bertindak tak bisa lepas dari matematika yang penuh struktur dan pola. Dalam menganalisis sebuah karya sastra, aspek seperti karakter dan tema dapat dianalisis dengan menggunakan metode kuantitatif. Misalnya, kita dapat menggunakan konsep statistik untuk mengukur dan membandingkan rata-rata jumlah kata yang digunakan oleh karakter dalam sebuah cerita atau membuat distribusi statistik karakter atau perilaku karakter tersebut. Hal ini bisa diperdalam untuk mendeteksi teknik propaganda jika ada atau mengidentifikasi ideologi terselubung serta menjadi referensi untuk menginterpretasi maksud, tujuan, dan sifat karakter yang keterkaitan lainnya yang mengikat sastra dan matematika adalah keindahan serta estetika. Salah satun pola yang dianggap indah dalam dunia matematika adalah deret Fibonacci. Dunia sastra mengenal Fibonacci Poems atau Puisi Fibonacci. The Fib, demikianlah Fibonacci Poems kerap disingkat, adalah syair beberapa baris yang dibentuk berdasarkan urutan Fibonacci. Jadi, jumlah suku kata di setiap baris sama dengan jumlah total suku kata di dua baris sebelumnya. Gagasan untuk menggunakan deret Fibonacci dalam puisi sebenarnya sudah ada sejak 1974, tetapi bentuk ini baru populer setelah Gregory Pincus mengeksplorasinya dan mempublikasikannya melalui blog pada demikian, adakalanya matematika memegang peranan yang eksplisit dan signifikan dalam sebuah karya berikutnya terletak kepada hadirnya logika dalam kedua dunia ini. Sastra mencakup aspek subyektif dan emosional yang tidak dapat dianalisis secara utuh dengan menggunakan logika matematika. Prinsip atau kerangka berpikir matematis dapat dimanfaatkan untuk menganalisis beberapa aspek prinsip-prinsip matematika tersebut tidak dapat sepenuhnya menguraikan kompleksitas pengalaman manusia yang terungkap dalam karya sastra. Kendati demikian, ada kalanya matematika memegang peranan yang eksplisit dan signifikan dalam sebuah karya sastra. Salah satu contohnya dapat kita temukan dalam literatur Holmes, tokoh fiksi karya Arthur Conan Doyle, sangat mungkin adalah detektif yang paling terkemuka dalam sejarah sastra dunia. Goriely, A, & Moulton, DE 2012 mengisahkan bahwa pada musim panas 2010, OCCAM The Oxford Centre for Collaborative Applied Mathematics diminta Warner Bros untuk membantu mereka dalam aspek matematika serial Sherlock Holmes yang berjudul A Game of Shadows. Musuh bebuyutan Holmes adalah seorang ahli matematika, Profesor James Moriarty. Tugas Goriely & Moulton adalah mendesain persamaan yang akan muncul pada papan raksasa di kantor Moriarty. Dalam persamaan tersebut, terdapat pesan tersembunyi mengenai beberapa rencana jahat juga Keindahan, Seni, dan SainsJerry Lenz pada 1973 telah memanfaatkan cerita science fiction untuk memperkenalkan siswa pada ide-ide dalam geometri. Penggunaan prinsip-prinsip matematika dalam analisis sastra bukanlah sebuah kewajiban. Pun mengulas matematika melalui karya sastra bukanlah suatu keharusan. Namun, penjabaran di atas semoga bisa mengingatkan kita, terutama pendidik, bahwa sastra dan matematika sesungguhnya berkawan akrab, dan pengajaran akan kedua bidang ini bisa dilakukan dengan menggunakan pendekatan Shoreamanis Panggabean, Dosen di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pelita HarapanARSIP LINKEDINMeicky Shoreamanis Panggabeann
Puisi Chairil Anwar yang berjudul Aku menjadi salah satu puisinya yang paling terkenal. Kutipan-kutipan lariknya banyak dipakai dan direproduksi dalam bentuk mural, kaus, maupun desain digital. Kutipan "Aku ini binatang jalang" juga kutipan "Aku ingin hidup seribu tahun lagi" menjadi yang cukup banyak untuk tidak mengatakan paling banyak digunakan. Puisi 'Aku' karya Cairil Anwar menjadi tonggak bagi bentuk dan semangat puisi Angkatan 45. Sebelum memublikasikan melaui cetakan, Chairil Anwar terlebih dahulu membacakan Puisi Aku di Pusat Kebudayaan Jakarta pada 1943. Baca Juga Kumpulan Hasil Analisis Puisi Karya Chairil Anwar Puisi tersebut kemudian diterbitkan di Pemandangan dengan judul Semangat. Penggunaan judul Semangat sebagai pengganti judul yang sebenarnya yaitu aku diperlukan untuk menghindari sensor dari pemerintah yang waktu itu diperintah oleh militer Jepang. Selain perubahan judul, larik yang berbunyi Ku mau tak seorang kan merayu juga diubah menjadi Ku tahu tak seorang kan merayu. Penggunaan Ku mau dianggap lebih radikal dibanding dengan Ku tahu. Jadi, penggunaan pilihan kata yang lebih 'lunak' ini bertujuan untuk menghindari penyensoran oleh pemerintah. Puisi 'Aku' Karya Chairil Anwar di Dinding di Belanda Sumber Gambar Berikut ini puisi Aku karya Chairil Anwar Selengkapnya Aku Kalau sampai waktuku 'Ku mau tak seorang 'kan merayu Tidak juga kau Tak perlu sedu sedan itu Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih peri Dan aku akan lebih tidak peduli Aku mau hidup seribu tahun lagi! Parafrase Puisi Aku Kalau sudah sampai waktuku untuk pergi 'Ku mau tak seorang 'kan merayu untuk tetap tinggal Tidak juga kau Tak perlu tangis sedu sedanmu itu Aku ini adalah ibarat binatang jalang Dari kumpulannya terbuang maka harus pergi Biar peluru menembus kulitku hendak menghentikanku Aku tetap akan semakin meradang dan tetap menerjang Luka ini dan bisa racun ini kubawa berlari terus Berlari aku akan terus berlari Hingga hilang rasa pedih peri di hati Dan aku akan lebih tidak peduli dengan kenyinyiran orang meski begini Aku mau karyaku tetap hidup sampai seribu tahun lagi! Dari hasil parafrase di atas, dapat diketahui bahwa, puisi Aku karya Chairil Anwar tersebut menggambarkan semangat untuk terbebas dari kungkungan keadaan. Si Aku sadar bahwa, usahanya untuk 'menentang zaman' pasti akan membuatnya diasingkan terbuang, bahkan harus siap disakiti ditembus peluru. Tapi tokoh 'Aku' akan tetap menerjang segala rintangan itu, tidak memedulikan rasa sakitnya yang akan hilang dengan sendirinya. Bahkan dia sama sekali tidak akan peduli, hingga suatu saat karyanya benar-benar akan dikenang bahkan hingga seribu tahun lagi. Baca Juga Contoh Parafrase Lagu dan Puisi yang Lain Analisis Diksi Puisi Aku karya Chairil Anwar Dilihat dari diksi atau pilihan kata yang digunakan oleh Chairil Anwar, ada beberapa yang bisa dianalisis. Antara lain penggunaan rima, dan kata kiasan makna konotasi dalam puisi, juga ciri khas Chairil Anwar. Penggunaan Bunyi Irama yang digunakan oleh Chairil Anwar muncul di hampir setiap bait puisi Aku. Hal ini tampak pada baris-baris berikut ini Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang Dalam bait di atas, tampak jelas bahwa ada pengulangan bunyi sengau ng yang berulang-ulang dalam satu bait. Ini bukan hal yang tidak disengaja. Penggunaan bunyi berulang seperti ini menunjukkan bahwa pilihan kata yang digunakan benar-benar diperhatikan. Hal yang sama juga tampak pada kata meradang menerjang dalam bait berikut ini Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Penggunaan pengulangan kata yang mirip juga tampak pada kata pedih peri dalam baris berikut Hingga hilang pedih peri Dalam baris tersebut, ada dua kata yang hampir serupa bunyinya yaitu kata pedih dan kata peri yang sama-sama diawali suku kata pe dan suku kata kedua mengandung bunyi i. Penggunaan Aliterasi Aliterasi adalah pengulangan bunyi vokal yang terdapat dalam satu kalimat. Dalam puisi Aku karya Chairil Anwar ini terdapat beberapa aliterasi yang dapat dianalisis. Luka dan bisa kubawa berlari Dalam baris di atas, terdapat aliterasi b. Pengulangan bunyi /b/ terdapat pada kata bisa, bawa, dan berlari. Pengulangan bunyi b ini memperkuat keindahan bunyi pada puisi Aku. Hingga hilang pedih peri Puisi aku juga mengandung aliterasi h yang tampak pada baris di atas. Ada yang digunakan sebagai awal kata pada hingga dan hilang juga digunakan di akhir kata yaitu pedih. Penggunaan bunyi h yang berulang menunjukkan makna kesedihan. Ciri Khas Chairil Anwar Hampir dalam setiap puisinya, Chairil Anwar melakukan penghilangan bunyi untuk kata-kata yang sudah umum diketahui. Dalam beberapa puisi yang lain, Chairil bahkan menghilangkan bunyi ma dalam kata manusia sehingga hanya menjadi 'nusia. Dalam puisi Aku ini, si Binantang Jalang ini, 'hanya' menghilangkan bunyi 'a' pada kata aku dan kata akan. Sehingga hanya menjadi 'Ku dan 'kan seperti tampak pada baris 'Ku mau tak seorang 'kan merayu Pemendekan atau lebih tepatnya pemotongan kata seperti ini menjadi ciri khas Chairil Anwar dan menjadi pelopor di Zamannya. Tema dan Amanat Puisi adalah karya sastra di zamannya dan bisa dimaknai lintas waktu menembus masa. Puisi Aku karya Chairil Anwar ini ditulis digubah dalam masa penjajahan Jepang yang sangat represif. Maka dari itu, puisi ini bisa dimaknai sebagai puisi yang bertemakan kesanggupan diri melawan kemapanan, berjuang menjadi bangsa yang bebas dalam berkarya dan mengarungi hidup. Chairil menggambarkan hal itu sebagai 'berlari'. Bergerak dengan sangat cepat. Meskipun sifat dan sikapnya itu akan memunculkan kesulitan dan mendapat ancaman dari berbagai pihak, dia tidak pernah peduli. Karena dia yakin bahwa, suatu saat karya dan sikapnya akan tetap dikenang, bahkan sampai seribu tahun lagi. Jadi, tema dalam puisi aku adalah menjadi diri sendiri yang bebas dari penjajahan. Adapun amanatnya adalah Mari terus berjuang, meski merasakan sakit. Karena di akhir perjuangan pasti akan ada kemenangan. Baca Juga Karakter tokoh 'aku' dalam Puisi 'Aku' Karya Chairil Anwar. Demikian contoh analisis puisi Aku karya Chairil Anwar sang Pelopor Angkatan 45.
AKU Kalau sampai waktukuKu mau tak seorang kan merayuTidak juga kauTak perlu sedu sedan ituAku ini binatang jalangDari kumpulannya terbuangBiar peluru menembus kulitkuAku tetap meradang menerjangLuka dan bisa kubawa berlariBerlariHingga hilang pedih periDan aku akan lebih tidak perduliAku mau hidup seribu tahun lagi Chairil AnwarMaret 1943 A. MAKNA PUISI AKUāDengan membaca dan memahami makna puisi Aku karya Chairil Anwar, ada banyak hal yang bisa dipelajari. Khususnya, bagi generasi yang hidup di era kemerdekaan. Karena, pada generasi ini, tentu tidak pernah hidup dan mengalami secara nyata apa yang terjadi di era awal kemerdekaan Indonesia. Beberapa makna puisi Aku, di antaranya adalah Wujud kesetiaan dan keteguhan hati atas pilihan kebenaran yang diyakininya. Hal ini tercermin melalui dua kalimat di awal puisi tersebut, yakni āKalau sampai waktuku Ku mau tak seorang kan merayuāKeberanian dalam berjuang meskipun banyak resiko yang akan dihadapi. Termasuk resiko untuk kehilangan nyawa atau terluka karena senjata musuh. Inilah yang digelorakan oleh Chairil Anwar, yang tersurat pada bait ketiga puisi yang tak pernah padam. Sebagaimana yang dinyatakan melalui kalimat āaku mau hidup seribu tahun lagiā. Hal tersebut adalah cermin dan betapa semangat Chairil Anwar untuk berjuang, tidak ingin dibatasi oleh waktu B. UNSUR INTRINSIK PUISI AKUā Tema Tema pada puisi āAkuā karya Chairil Anwar adalah menggambarkan kegigihan dan semangat perjuangan untuk membebaskan diri dari belenggu penjajahan, dan semangat hidup seseorang yang ingin selalu memperjuangkan haknya tanpa merugikan orang lain, walaupun banyak rintangan yang ia hadapi. Dari judulnya sudah terlihat bahwa puisi ini menceritakan kisah AKUā yang mencari tujuan hidup. Pemilihan Kata Diksi Untuk ketepatan pemilihan kata sering kali penyair menggantikan kata yang dipergunakan berkali-kali yang dirasa belum tepat, diubah kata-katanya. Seperti pada baris kedua bait pertama āKu mau tak seorang ākan merayuā merupakan pengganti dari kata āku tahuā. āKalau sampai waktukuā dapat berarti ākalau aku matiā, ātak perlu sedu sedanādapat berarti āberarti tak ada gunannya kesedihan ituā. āTidak juga kauā dapat berarti ātidak juga engkau anaku, istriku, atau kekasihkuā. Rasa Rasa adalah sikap penyeir terhadap pokok permasalahan yang terdapat pada puisi āAkuā karya Chairil Awar merupakan eskpresi jiwa penyair yang menginginkan kebebasan dari semua ikatan. Di sana penyair tidak mau meniru atau menyatakan kenyataan alam, tetapi mengungkapkan sikap jiwanya yang ingin berkreasi. Sikap jiwa ājika sampai waktunyaā, ia tidak mau terikat oleh siapa saja, apapun yang terjadi, ia ingin bebas sebebas-bebasnya sebagai āakuā. Bahkan jika ia terluka, akan di bawa lari sehingga perih lukanya itu hilang. Ia memandang bahwa dengan luka itu, ia akan lebih jalang, lebih dinamis, lebih vital, lebih bergairah hidup. Sebab itu ia malahan ingin hidup seribu tahun lagi. Uraian di atas merupakan yang dikemukakan dalam puisi ini semuanya adalah sikap chairil yang lahir dari ekspresi jiwa penyair. Nada dan Suasana a. NadaDalam puisi tersebut penulis menggambarkan nada-nada yang berwibawa, tegas, lugas dan jelas dalam penyampaian puisi ini, karena banyak bait-bait puisi tersebut menggandung kata perjuangan. Dan menggunanakan nada yang syahdu di bait yang terkesan sedikit SuasanaSuasana yang terdapat dalam puisi tersebut adalah suasana yang penuh perjuangan, optimis dan kekuatan emosi yang cukup tinggi tetapi ada beberapa suasana yang berubah menjadi sedih karena dalam puisi tersebut menceritakan ada beberapa orang yang tak mengaangap perjuangannya si tokoh. Majas Dalam puisi tersebut menggunakan majas hiperbola pada kalimat āAku tetap meradang menerjangā. Terdapat juga majas metafora pada kalimat āAku ini binatang jalangā. Pencitraan/pengimajian Di dalam sajak ini terdapat beberapa pengimajian, diantaranya Ku mau tak seorang ākan merayu Imaji Pendengaran, Tak perlu sedu sedan ituā Imaji Pendengaran, Biar peluru menembus kulitkuā Imaji Rasa, Hingga hilang pedih perihā Imaji Rasa. Amanat Amanat adalah hal yang mendorong penyair untuk menciptakan puisinya. Amanat berhubungan dengan makna karya sastra. Makna bersifat kias, subjektif, dan umum. Makna berhubungan dengan individu, konsep seseorang dan situasi tempatpenyair mengimajinasikan dalam Puisi Akuā karya Chairil Anwar yang dapat saya simpulkan dan dapat kita rumuskan adalah sebagai berikut Manusia harus tegar, kokoh, terus berjuang, pantang mundur meskipun rintangan harus berani mengakui keburukan dirinya, tidak hanya menonjolkan kelebihannya harus mempunyai semangat untuk maju dalam berkarya agar pikiran dan semangatnya itu dapat hidup selama-lamanya. C. UNSUR EKSTRINSIK Biografi Pengarang Chairil Anwar di Medan, 22 Juli muncul di dunia kesenian pada zaman dari esai-esai dan sajak-sajaknya terlihat bahwa ia seorang yang individualis yang bebas dan berani dalam menentang lembaga sensor pun seorang yang mencintai tanah air dan bangsanya, hal ini tampak pada sajak-sajaknya Diponegoro, Karawang-Bekasi, Persetujuan dengan Bung Karno, dll. Hubungan Karya Sastra Dengan kondisi sosial masyarakat Pada Saat Karya Sastra Lahir Sajak AKU ini, banyak dipengaruhi oleh kondisi sosial masyarakat pada zaman itu. Bahkan sebagai akibat dari lahirnya sajak AKU ini, Chairil Anwar ditangkap dan dipenjara oleh Kompetai Jepang. Hal ini karena sajaknya terkesan membangkang terhadap pemerintahan AKU ini ditulis pada tahun 1943, di saat jaman pendudukan masyarakat pada waktu itu sangat miskin dan Indonesia berada di bawah kekuasaan Jepang, tanpa mampu berbuat banyak untuk paksa marak terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia menjadi budak di negaranya sendiri. Chairil Anwar mulai banyak dikenal oleh masyarakat dari puisinya yang paling terkenal berjudul Semangat yang kemudian berubah judul menjadi Aku. Puisi yang ia tulis pada bulan Maret tahun 1943 ini banyak menyita perhatian masyarakat dalam dunia sastra. Dengan bahasa yang lugas, Chairil berani memunculkan suatu karya yang belum pernah ada sebelumnya. Pada saat itu, puisi tersebut mendapat banyak kecaman dari publik karena dianggap tidak sesuai sebagaimana puisi-puisi lain pada zaman ituPuisi yang sebelumnya berjudul Semangat ini terdapat dua versi yang berbeda. Terdapat sedikit perubahan lirik pada puisi tersebut. Kata ku mauā berubah menjadi kutahuā. Pada kata hingga hilang pedih periā, menjadi hingga hilang pedih dan periā. Kedua versi tersebut terdapat pada kumpulan sajak Chairil yang berbeda, yaitu versi Deru Campur Debu, dan Kerikil Tajam. Keduanya adalah nama kumpulan Chairil sendiri, dibuat pada bulan dan tahun yang sama. Mungkin Chairil perlu uang, maka sajaknya itu dimuat dua kali, agar dapat dua honor Aidit1999.Penjelajahan Chairil Anwar berpusar pada pencariannya akan corak bahasa ucap yang baru, yang lebih berbunyiā daripada corak bahasa ucap Pujangga Baru. Chairil Anwar pernah menuliskan betapa ia betul-betul menghargai salah seorang penyair Pujangga Baru, Amir Hamzah, yang telah mampu mendobrak bahasa ucap penyair-penyair sebelumnya. Idiom binatang jalangā yang digunakan dalam sajak tersebut pun sungguh suatu pendobrakan akan tradisi bahasa ucap Pujangga Baru yang masih cenderung mendayu-dayu. Secara makna, puisi Aku tidak menggunakan kata-kata yang terlalu sulit untuk dimaknai, bukan berarti dengan kata-kata tersebut lantas menurunkan kualitas dari puisi ini. Sesuai dengan judul sebelumnya, puisi tersebut menggambarkan tentang semangat dan tak mau mengalah, seperti Chairil Pada lirik pertama, chairil berbicara masalah waktu seperti pada kutipan 1. Kalau sampai waktuku Waktu yang dimaksud dalam kutipan 1 adalah sampaian dari waktu atau sebuah tujuan yang dibatasi oleh waktu. Chairil adalah penyair yang sedang dalam pencarian bahasa ucap yang mampu memenuhi luapan ekspresinya sesuai dengan yang diinginkannya, tanpa harus memperdulikan bahasa ucap dari penyair lain saat itu. Chairil juga memberikan awalan kata kalauā yang berarti sebuah pengandaian. Jadi, Charil berandai-andai tentang suatu masa saat ia sampai pada apa yang ia cari selama ini, yaitu penemuan bahasa ucap yang berbeda dengan ditandai keluarnya puisi tersebut. Ku mau tak seorang kan merayu Pada kutipan 2 inilah watak Charil sangat tampak mewarnai sajaknya. Ia tahu bahwa dengan menuliskan puisi Aku ini akan memunculkan banyak protes dari berbagai kalangan, terutama dari kalangan penyair. Memang dasar sifat Chairil, ia tak menanggapi pembicaraan orang tentang karyanya ini, karena memang inilah yang dicarinya selama ini. Bahkan ketidakpeduliannya itu lebih dipertegas pada lirik selanjutnya pada kutipan 3. Tidak juga kau Kau yang dimaksud dalam kutipan 3 adalah pembaca atau penyimak dari puisi ini. Ini menunjukkan betapa tidak pedulinya Chairil dengan semua orang yang pernah mendengar atau pun membaca puisi tersebut, entah itu baik, atau pun tentang baik dan buruk, bait selanjutnya akan berbicara tentang nilai baik atau buruk dan masih tentang ketidakpedulian Chairil atas keduanya. Tidak perlu sedu sedan ituAku ini binatang jalangDari kumpulannya terbuang Zaini, salah seorang Sahabat Chairil pernah bercerita, bahwa ia pernah mencuri baju Chairil dan menjualnnya. Ketika Chairil mengetahui perbuatan sahabatnya itu, Chairil hanya berkata, āMengapa aku begitu bodoh sampai bisa tertipu oleh kauā. Ini menunjukkan suatu sikap hidup Chairil yang tidak mempersoalkan baik-buruknya suatu perbuatan, baik itu dari segi ketetetapan masyarakat, maupun agama. Menurut Chairil, yang perlu diperhatikan justru lemah atau kuatnya orang. Dalam kutipan 4, ia menggunakan kata binatang jalangā, karena ia ingin menggambar seolah seperti binatang yang hidup dengan bebas, sekenaknya sendiri, tanpa sedikitpun ada yang mengatur. Lebih tepatnya adalah binatang liar. Karena itulah ia dari kumpulannya terbuangā. Dalam suatu kelompok pasti ada sebuah ikatan, ia dari kumpulannya terbuangā karena tidak ingin mengikut ikatan dan aturan dalam kumpulannya. Biar peluru menembus kulitkuAku tetap meradang menerjangLuka dan bisa kubawa berlariBerlariHingga hilang pedih peri Peluru tak akan pernah lepas dari pelatuknya, yaitu pistol. Sebuah pistol seringkali digunakan untuk melukai sesuatu. Pada kutipan 5, bait tersebut tergambar bahwa Chairil sedang diserangā dengan adanya peluru menembus kulitā, tetapi ia tidak mempedulikan peluru yang merobek kulitnya itu, ia berkata āBiarā. Meskipun dalam keadan diserang dan terluka, Chairil masih memberontak, ia tetap meradang menerjangā seperti binatang liar yang sedang diburu. Selain itu, lirik ini juga menunjukkan sikap Chairil yang tak mau cacian dan berbagai pembicaraan tentang baik atau buruk yang tidak ia pedulikan dari sajak tersebut juga akan hilang, seperti yang ia tuliskan pada lirik selanjutnya. Dan aku akan lebih tidak perduliAku mau hidup seribu tahun lagi Inilah yang menegaskan watak dari penyair atau pun dari puisi ini, suatu ketidakpedulian. Pada kutipan 6, bait ini seolah menjadi penutup dari puisi tersebut. Sebagaimana sebuah karya tulis, penutup terdiri atas kesimpulan dan harapan. Kesimpulannya adalah Dan aku akan lebih tidak perduliā, ia tetap tidak mau peduli. Chairil berharap bahwa ia masih hidup seribu tahun lagi agar ia tetap bisa mencari-cari apa yang Chairil ingin menunjukkan ketidakpeduliannya kepada pembaca, dalam puisi ini juga terdapat pesan lain dari Chairil, bahwa manusia itu adalah makhluk yang tak pernah lepas dari salah. Oleh karena itu, janganlah memandang seseorang dari baik-buruknya saja, karena kedua hal itu pasti akan ditemui dalam setiap manusia. Selain itu, Chairil juga ingin menyampaikan agar pembaca tidak perlu ragu dalam berkarya. Berkaryalah dan biarkan orang lain menilainya, seperti apa pun bentuk penilaian itu. Ć Penggunaan Bahasa Dalam pengungkapan puisi diatas penyair menggunakan bahasa yang khas yaitu pemberani yang ingin bebas dari semua ikatan disana .Penyair tidak mau terhasut rayuan dari siapapun. Dia tetap pada pendiriannya yang ingin berkreasi, contoh pada syair Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Ć Pilihan Kata/Persamaan Bunyi Ciri khas puisi yang lain juga dapat dilihat dari pilihan kata/ persamaan bunyi dan persajakan. Misalnya pada syair Kalau sampai waktuku Ku mau tak seorang kan merayu Tidak juga kau Tak perlu sedu sedan itu Dalam penggalan puisi diatas, dapat dijumpai persamaan bunyi sebagai berikut Rima akhir dijumpai pada kata waktuku , merayu , kau , itu Bunyi Vocal Asonansi terdapat pada syair Tak perlu sedu sedan itu . terdapat bunyi Aku ini binatang jalang . terdapat bunyi Diksi pilihan kata pada syair Kalau sampai waktuku Dalam kutipan syair puisi diatas penyair lebih memilih kata āKalau sampai waktuku ā . Maksudnya, jika dia telah sampai pada waktunya wafat, dia tidak mau ada seorangpun yang merayunya karena itu semua tidak penting bagi penyair. Majas Dalam puisi diatas terdapat majas hiperbola pada syair Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang ā¦ā¦ā¦ā¦ā¦ā¦ā¦ā¦ā¦ā¦ā¦ā¦.. Aku mau hidup seribu tahun lagi Ć Makna Kiasan Konotatif Pada Setiap Bait Bait Pertama Kalau sampai waktuku Ku mau tak seorang kan merayuTidak juga kau Pada bait ini tertulis keyakinan pengarang yang sangat bulat terhadap apa yang diyakininya, sehingga tak bisa dirayu siapapun. kata ākauā menggambarkan seorang yang dekat atau bisa menjadi siapa saja. Bahkan merayupun tidak diinginkan oleh pengarang Bait Kedua Tak perlu sedu sedan itu Dalam bait ini sebenarnya penulis bukan bermaksud menghibur siapapun yang merayunya, tapi hal ini bermaksud bahwa penulis tidak akan goyah meskipun dirayu dengan cara apapun. Bait Ketiga Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang Penulis mengakui bahwa dirinya bukanlah sesuatu yang penting, maka ia tidak perlu dibujuk atau dirayu oleh siapapun. Bait Keempat dan Kelima Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih peri Disini, penulis menggambaarkan bahwa keyakinan dan tekadnya sangat bulat. Meski beribu rintangan dan halangan menghadang, tapi penulis tetap memegang teguh keyakinannya. Bait Keenam dan Ketujuh Dan aku akan lebih tidak perduli Aku mau hidup seribu tahun lagi Pada kalimat ini, peulis menekankan bahwa dirinya tidak peduli dengan semua rintangan yang dihadapinya. Ć Tema Tema puisi ini adalah perjuangan. Seperti pada kalimat di bawah ini Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang
BAB I BENTUK METODE Diksi Untuk ketepatan pemilihan kata sering kali penyair menggantikan kata yang dipergunakan berkali-kali yang dirasa belum tepat, diubah kata-katanya. Seperti pada baris kedua bait pertama āKu mau tak seorang ākan merayuā Merupakan pengganti dari kata āku tahuā. ākalau sampai waktukuā dapat berarti ākalau aku matiā ātak perlu sedu sedanā dapat bererti āberarti tak ada gunannya kesedihan ituā. āTidak juga kauā dapat berarti ātidak juga engkau anaku, istriku, atau kekasihkuā. Kata Nyata Secara makna, puisi Aku tidak menggunakan kata-kata yang terlalu sulit untuk dimaknai, bukan berarti dengan kata-kata tersebut lantas menurunkan kualitas dari puisi ini. Sesuai dengan judul sebelumnya, puisi tersebut menggambarkan tentang semangat dan tak mau mengalah, seperti Chairil itu sendiri. Majas Dalam sajak ini intensitas pernyataan dinyatakan dengan sarana retorika yang berupa hiperbola, dikombinasi dengan ulangan, serta diperkuat oleh ulangan bunyi vokal a dan u ulangan bunyi lain serta persajakan akhir seperti telah dibicarakan di atas. Hiperbola tersebut Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang Biar perlu menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang ā¦ā¦ā¦ Aku ingin hidup seribu tahun lagi Gaya tersebut disertai ulangan i-i yang lebih menambah intensitas Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih peri Dan aku akan lebih tidak perduli Aku ingin hidup seribu tahun lagi Dengan demikian jelas hiperbola tersebut penonjolan pribadi tanpa makin nyata disana ia mencoba untuk nyata berada di dalan dunianya. Pengimajian Melalui diksi, kata nyata, dan majas yang digunakannya, penyair berupaya menumbuhkan pembayangan para penikmat sajak-sajaknya. Semakin kuat dan lengkap pembayangan yang dapat dibangun oleh penikmat sajak-sajaknya, maka semakin berhasil citraan yang dilakukan penyair. Di dalam sajak ini terdapat beberapa pengimajian, diantaranya Ku mau tak seorang ākan merayu Imaji Pendengaran Tak perlu sedu sedan ituā Imaji Pendengaran Biar peluru menembus kulitkuā Imaji Rasa Hingga hilang pedih perihā Imaji Rasa. Versifikasi Ritme dalam puisi yang berjudul Akuā ini terdengar menguat karena ada pengulangan bunyi Rima pada huruf vocal Uā dan Iā Vokal Uāpada larik pertama dan ke dua, pengulangan berseling vokal a-u-a-u Larik pertama Kalau sampai waktuku.ā Larik kedua Ku mau tak seorang-ākan merayu. Larik kedua Tidak juga kauā. Pengulangan vokal Iā Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih perih Dan aku akan lebih tidak peduli Aku mau hidup seribu tahun lagi Tipogafri Tipografi atau disebut juga ukiran bentuk. Dalam Puisi didefinisikan atau diartikan sebagai tatanan larik, bait, kalimat, frase, kata dan bunyi untuk menghasilkan suatu bentuk fisik yang mampu mendukung isi, rasa dan suasana. Namun dalam sajak Akuā karya Chairil Anwar tidak menggunakan tipografi. BAB II HAKEKAT PUISI Tema atau Sense Tema dalam puisi AKUā ini adalah perjuangan seperti pada baris keempat dan kelima Biar peluru menembus kulitkuā Aku tetap meradang menerjangā. Feeling atau Rasa Feeling atau Rasa merupakan salah satu unsur isi yang dapat mengungkapkan sikap penyair pada pokok persoalan puisi. Pada puisi di atas merupakan eskpresi jiwa penyair yang menginginkan kebebasan dari semua ikatan. Di sana penyair tidak mau meniru atau menyatakan kenyataan alam, tetapi mengungkapkan sikap jiwanya yang ingin berkreasi. Sikap jiwa ājika sampai waktunyaā, ia tidak mau terikat oleh siapa saja, apapun yang terjadi, ia ingin bebas sebebas-bebasnya sebagai āakuā. Bahkan jika ia terluka, akan di bawa lari sehingga perih lukanya itu hilang. Ia memandang bahwa dengan luka itu, ia akan lebih jalang, lebih dinamis, lebih vital, lebih bergairah hidup. Sebab itu ia malahan ingin hidup seribu tahun lagi. Uraian di atas merupakan yang dikemukakan dalam puisi ini semuanya adalah sikap chairil yang lahir dari ekspresi jiwa penyair. Tone atau Nada Kalau feeling menggambarkan sikap penyair kepada pokok persoalan puisinya, sedangkan tone atau nada merupakan unsur isi yang menggambarkan sikap penyair kepada pembacanya. Dalam Puisi Akuā terdapat kata Tidak juga kauā, Kau yang dimaksud dalam kutipan diatas adalah pembaca atau penyimak dari puisi ini. Ini menunjukkan betapa tidak pedulinya Chairil dengan semua orang yang pernah mendengar atau pun membaca puisi tersebut, entah itu baik, atau pun buruk. Disamping Chairil ingin menunjukkan ketidakpeduliannya kepada pembaca, dalam puisi ini juga terdapat pesan lain dari Chairil, bahwa manusia itu itu adalah makhluk yang tak pernah lepas dari salah. Oleh karena itu, janganlah memandang seseorang dari baik-buruknya saja, karena kedua hal itu pasti akan ditemui dalam setiap manusia. Selain itu, Chairil juga ingin menyampaikan agar pembaca tidak perlu ragu dalam berkarya. Berkaryalah dan biarkan orang lain menilainya, seperti apa pun bentuk penilaian itu. Amanat Amanat dalam Puisi Akuā karya Chairil Anwar yang dapat saya simpulkan dan dapat kita rumuskan adalah sebagai berikut Manusia harus tegar, kokoh, terus berjuang, pantang mundur meskipun rintangan menghadang. Manusia harus berani mengakui keburukan dirinya, tidak hanya menonjolkan kelebihannyasaja. Manusia harus mempunyai semangat untuk maju dalam berkarya agar pikiran dan semangatnya itu dapat hidup selama-lamanya. BAB III KESIMPULAN Kesimpulan Dari ulasan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa setiap seniman atau sastrawan dalam membuat suatu karyanya dapat menggunakan berbagai macam caranya. Salah satu caranya dengan mengekspresikan karyanya sebagai gundahan, gejolak, pengalaman, bayang-bayang yang sebagai media penyaluran karyanya untuk dapat dinikmati oleh umum. Kiasan-kiasan yang dilontarkan oleh Chair Anwar dalam puisinya menunjukan bahwa di dalam dirinya mencoba memetaforakan akan bahasa yang digunakan yang bertujuan mencetusan langsung dari jiwa. Cetusan itu dapat bersifat mendarah daging, seperti sajak āakuā. Dengan kiasan-kiasan itu gambaran menjadi konkrit, berupa citra-citra yang dapat diindra, gambaran menjadi nyata, seolah dapat dilihat, dirasakan sakitnya. Di samping itu kiasa-kiasan tersebut menyebabkan kepadatan sajak. Untuk menyatakan semangat yang nyala-nyala untuk merasakan hidup yang sebanyak-banyaknya digunakan kiasan āaku mau hidup seribu tahun lagiā. Jadi, di sini kelihatan gambaran bahwa si aku penuh vetalitas mau mereguk hidup ini selama-lamanya. Jadi berdasarkan dasar konteks itu harus ditafsirkan bahwa Chairil Anwar dalam puisi āakuā dapat didefinisaikan sebagai bentuk pemetaforaan bahasa atau kiasan bahwa yang hidup seribu tahun adalah semangatnya bukan fisik.
AKU Chairil Anwar Maret 1943 Kalau sampai waktuku Ku mau tak seorangākan merayu Tidak juga kau Tak perlu sedu sedan itu Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih perih Dan aku akan lebih tidak peduli Aku mau hidup seribu tahun lagi Chairil Anwar adalah seorang sastrawan kenamaan Indonesia yang nmanay sudah sering kali disebut. Karya-karyanya pun banyak dikutip dan dipentaskan ulang oleh para seniman hingga kini. Chairil Anwar merupakan salah satu pelopor Angkatan ā45 sekaligus puisi modern Indonesia. Beberapa karya Chairil Anwar juga banyak dicantumkan dalam buku teks pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah dan yang paling terkenal adalah puisi āAKUā. Puisi āAKUā ditulis pada tahun 1943 oleh Chairil Anwar dan masuk pada karya sastra angkatan ā45. Pada angkatan ā45 ini berkembangnya karangan puisi dan berkurangnya karangan prosa. Adapun ciri-ciri dari karya sastra angkatan ā45, antara lain Ā Terbuka Ā Pengaruh unsur sastra asing lebih luas Ā Corak isi lebih realis, naturalis Ā Individualisme sastrawan lebih menonjol, dinamis, dan kritis Ā Penghematan kata dalam karya Ā Ekspresif Ā Sinisme dan sarkasme Ā Karangan prosa berkurang, puisi berkembang Chairil Anwar menulis puisi āAKUā ini pada masa penjajahan Jepang yang isinyamempresentasikan mengenai keinginan untuk berjuang dan menolak penjajahan. Keterbukaan dalam pui āAKUā ini sangat menonjol, bahkan penggunaan majas hiperbola sangat terlihat pada bait āAku ini binatang jalangā menonjolkan pribadi Chairil Anwar makin nyata disana ia mencoba untuk nyata berada di dalam dunianya. Bahasa yang digunakan oleh Chairil Anwar pun pada saat itu bertentangan dengan penguasa pada masanya dan dipandang salah. Penghematan kata pada puisi tersebut juga sangat terlihat. Tidak begitu panjang namun terkesan realistis dan naturalis. Dalam puisi āAKUā ini Chairil Anwar memberikan pesan untuk terus berjuang melawan penjajah walaupun harus dibayar dengan nyawa. Bukan hanya itu, melalui puisi ini Chairil Anwar seolah ingin menunjukkan bahwa dirinya rela untuk menjadi berbeda dan dipandang bersalah dan berkeyakinan bahwa akan tiba saatnya nanti karyanya tidak lagi dipandang salah. Penulis ELZZA & Puput Anita
analisis puisi chairil anwar aku